BLOGGER TEMPLATES - TWITTER BACKGROUNDS »

Sunday, March 8, 2009

tikaKu tErMenunG~
cHewAhhh...cAm bEpUisy Plk..hehe
da lAme pLak raSenYe xpOst kAt bLoG nIh..cYan kAt dyE..:p

ye Lar...oN9 tYap2 aiE...tP nk sEnd NeW PoSt xsMPat pLak...nk Wat cmNe..BZ!!;p

alA sLalu on9 pN aSek usHar2 fS, GrUp 1991, fLixTer, hi5, FacEbuK, gRup mRsm lAr, prS Agy...mCm2...tp mEspEs aK mLas plk nk Lyan...baB ms adE proBs pe nTa...bia laR..xMati pN kLu xdE ms 2..hehe

erm...doK2 ni..meh nK stOry mOrY sKet kaT kowG sUme...
ni bKn cTe ak...tp baCe r..bEsh ctE nI...

dEnga yEr, nEnEk nK bEsTory niH:)
eyH3...bAce laR sndRi..nGaDe2 plk eyH..heheh
enJoy urself K!!

Photobucket

(^,^) 1 luV sToriE (^,^)
<<<---Cinta Lelaki Biasa--->>>

Photobucket


MENJELANG hari perkahwinannya, Nania masih saja sukar mengungkapkan alasan kenapa dia mahu
menikah dengan lelaki itu. Setelah melihat ke belakang, hari-hari yang
dilalui, gadis cantik itu sedar, kehairanan yang terjadi bukan semata miliknya,
melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, jiran tetangga, dan
teman-teman Nania. Mereka ternyata sama hairannya.

"Kenapa?" tanya mereka di hari Nania menghantarkan surat undangan.

Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari
sidang yang baru saja berlalu. Suasana petang di kampus sepi. Berpasang-pasang
mata tertuju pada gadis itu.

Tiba-tiba saja pipi Nania menjadi merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu
neon limabelas watt. Hatinya sibuk merungkai kata-kata yang barangkali
berterbangan di otak melebihi segalanya. Mulut Nania terbuka. Semua menunggu.
Tapi tiada apapun yang keluar dari mulutnya. Ia hanya menarik nafas, mencuba
berbicara dan menyedari, dia tak punya kata-kata!

Dulu gadis berwajah manis itu mengira punya banyak jawapan, alasan detail dan
spesifik, kenapa bersedia menikah dengan lelaki itu. Tapi kejadian di kampus
adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap. Yang pertama
terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli untuk
melamarnya. Pertemuan keluarga Nania dianggap saat yang tepat kerana semua
berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang sudah
berkeluarga membawa serta anak mereka.

"Kamu pasti bergurau!"

Nania kaget. Tapi melihat senyum yang terserlah di wajah kakak sulungnya, disusuli
senyum serupa dari kakak nombor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama
membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania bergurau.

Suasana menjadi hening seheningnya. Bahkan saudara-saudara Nania yang masih kecil
melongo dengan gigi-gigi mereka yang rongak. Semua menatap Nania!

"Nania serius!" tegasnya sambil menekan nada suaranya, apa lawaknyanya jika Rafli memang
melamarnya.

"Tidak ada yang lawak dalam hal ini," suara Papa tegas, "Papa hanya tidak mengira Rafli berani
melamar anak Papa yang paling cantik!"

Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa sebentar tadi adalah pertanda baik.
Andaian Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu berpasang-pasang mata
kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh selidik seisi ruang pengadilan
pada tertuduh yang duduk layaknya di ruang itu.

"Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan?" Mama mengambil inisiatif berbicara,
masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa, "maksud Mama siapa saja boleh
datang melamar siapapun, tapi jawapannya tidak semestinya ya, kan?"

Nania terkesima.

"Kenapa?"

Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik.

Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari busana, sampai
semuanya. Kamu juga juara debat bahasa Inggeris, juara baca puisi. Suaramu bagus!

Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu bakal meraih gelaran siswazah. Bakatmu yang
lain pun luar biasa. Nania sayang, kamu boleh mendapatkan lelaki manapun yang
kamu mahu!

Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa, kakak-kakak,
dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan panjang huraian mereka atau satu kata
'kenapa' yang baru sahaja Nania lontarkan.

"Nania Cuma inginkan Rafli," sahutnya pendek dengan airmata mengambang di kelopak.

Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak
menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah.

"Tapi kenapa?"

Sebab Rafli cuma lelaki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa,
berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa.

Bergantian tiga saudara tua Nania mencuba membuka matanya.

"Tak ada yang dapat dilihat pada dia, Nania!"

Cukup!

Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi
parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana tawakkal
hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat pencapaiannya
hari ini?

Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli. Barangkali
kerana Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu tak punya
fakta dan data konkrit yang boleh membuat Rafli tampak 'luar biasa'. Nania Cuma
mempunyai idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun Nania menapaki hidup
hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima Rafli. Di sampingnya Nania
bahagia.

Mereka akhirnya menikah.

************************************************************

Setahun pernikahan.

Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik di
belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya, Nania masih
belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di mata
mereka.

Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga Nania
dapat merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia
melayani Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat bahagia.

"Tidak ada lelaki yang boleh mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania."

Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.

Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak percaya.

"Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu!"

"Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar!"

"Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan yang cerah!"

Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini dilakukannya
sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli.

Beberapa lama keempat adik dan kakak itu bertikam lidah.

Tapi Rafli juga tidak miskin, Kak!

Betul. Tapi dia juga tak hensem kan?

Rafli juga pintar!

Tidak sepintarmu, Nania.

Rafli juga berjaya, pekerjaannya lumayan.

Hanya lumayan, Nania. Bukan berjaya. Tidak sepertimu.

Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahawa adik mereka
beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma.

"Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli! Kamu berjaya, cantik, kamu bahkan tidak
perlu lelaki untuk hidupmu."

Sanggupnya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua. Padahal adik mereka sudah
menikah dan sebentar lagi akan menyambut kehadiran seorang anak.

Ketika lima tahun pernikahan berlalu, kata-kata itu tak juga berhenti. Padahal
Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu perempuan.
Keduanya membahagiakan. Rafli bekerja lebih rajin setelah mereka memiliki
anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih dari cukup untuk hidup
senang.

"Tak apa," kata lelaki itu, ketika Nania memintanya untuk tidak terlalu
memaksa diri.

"Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Abang."

Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak perlu khuatir
sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya maksud baik.

"Sebaiknya Nania simpan saja, untuk masa susah. Ya?"

Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kucupan lembut. Saat itu sesuatu
seperti kejutan elektrik menyentakkan otak dan membuat fikiran Nania cerah.

Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!

Pertanyaan kenapa dia menikahi lelaki biasa, dari keluarga biasa, dengan
pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat
sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania.

Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting.

Menginjak tahun ketujuh pernikahan, kedudukan Nania di pejabat semakin gemilang,
wang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak pintar dan lucu, dan
Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan itu berada di puncak!

Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan bergandingan
mesra. Bisik orang-orang di pejabat, bisik jiran tetangga kanan dan kiri, bisik
saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama.

Sungguh beruntung suaminya. Isterinya cantik.

Cantik ya? dan kaya!

Tak seimbang!

Dulu bisik-bisik itu membuatnya tensyen. Sekarang pun masih, tapi Nania
belajar untuk bersikap tidak ambil peduli. Lalu dia hidup dengan perasaan bahagia
yang kian membukit dari hari ke hari.

Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari puncak.
Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu itu,
tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania menangis.

*****************************************************

Bayi yang dikandung Nania tidak juga mahu keluar. Sudah lewat dua minggu dari
waktunya.

"Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera
dikeluarkan!"

Mula-mula doktor kandungan langganan Nania memasukkan sejenis ubat ke dalam
rahim Nania. Ubat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu
merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan
jam, mereka akan segera melihat si kecil.

Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit. Hanya
waktu-waktu solat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan
menunaikan solat di sisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta orang tua
Nania belum satu pun yang datang.

Anehnya, meski ubat kedua sudah dimasukkan, lapan jam setelah ubat pertama,
Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan melilit sudah
dirasakan Nania setiap lima minit, lalu tiga minit. Tapi pembukaan berjalan lambat
sekali.

"Baru pembukaan satu."

"Belum ada perubahan, puan."

"Sudah bertambah sedikit," kata seorang nurse empat jam kemudian menyemaikan
harapan.

"Sekarang pembukaan satu lebih sedikit."

Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat nurse terakhir yang memeriksa
memiliki sense of humor yang tinggi.

Tiga puluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua. Ketika pembukaan pecah,
didahului keluarnya darah, mereka melonjak bahagia sebab dulu-dulu kelahiran
akan mengikuti setelah ketuban pecah. Tetapi sangkaan mereka meleset.

"Masih pembukaan dua, tuan!"

Rafli tercengang. Cemas. Nania terhibur kerana rasa sakit yang sudah
tak sanggup lagi ditanggungnya. Keadaan perempuan itu makin payah. Sejak pagi
tak sesuap nasi pun dapat ditelannya.

"Bang?"

Rafli termangu. Hiba hatinya melihat sang isteri memperjuangkan dua kehidupan.

"Doktor?"

"Kita bedah, Nia. Bayi mungkin terlilit tali pusat."

Mungkin?

Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu? Bagaimana
jika terlambat?

Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kerisauan. Ia senang kerana
Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu bilik pembedahan. Nania tak
suka merasa sendiri lebih awal.

Pembiusan dilakukan, Nania dibawa ke ruangan serba putih. Sebuah sekatan diletak
di perutnya hingga dia tidak dapat menyaksikan ketrampilan doktor-doktor itu.
Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu yang digoncang ombak.
Berayun-ayun. Kesedarannya naik-turun. Terakhir, telinga perempuan itu sempat
menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang
bergerak, sebelum kemudian dia tak sedarkan diri.

Kerisauan ada di ruang udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir lelaki itu
tak berhenti melafazkan zikir.

Seorang doktor keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekati.

"Pendarahan yang terlalu banyak."

Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah.

Ada bakteria di mulut rahim yang tidak dikesan dan entah bagaimana pecah!

Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam keadaan kritikal.

Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama. Saudara-saudara
Nania menyimpan tangis, sambil menenangkan orang tua mereka.

Rafli seperti berada dalam suasana yang berbeza. Lelaki itu termenung beberapa
saat, ada rasa cemas yang mengalir dalam pembuluh-pembuluh darahnya dan tak dapat
dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanser.

Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.

**********************************************************

Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari kediamannya
ke rumah sakit. Ia harus membahagi perhatian bagi Nania dan juga anak-anak.
Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan,
fiziknya sangat kuat, juga daya ketahanannya. Tidak sampai empat hari, mereka sudah
boleh membawanya pulang.

Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut menunggu Nania di rumah
sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil. Walau tak
banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga Nania dengan Rafli.

Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit,
kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat
Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh.Selain itu, dedikasi Rafli terhadap
pejabat tidak perlu diragukan.

Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran kecil,
dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU. Kadang perawat dan
pengunjung lain yang kebetulan menjenguk kaum keluarga mereka, melihat lelaki
dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bergurau mesra.

Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania boleh merasakan kehadirannya.

"Nania, bangun, Cinta?"

Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan
kening isterinya yang cantik.

Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai putus asa dan berfikir untuk
pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit, mengaji dekat
Nania sambil menggenggam tangan isterinya mesra. Kadang lelaki itu membawakan
buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit dan membacanya dengan suara perlahan.
Memberikan tambahan di bahagian ini dan itu. Sambil tak bosan-bosannya berbisik,

"Nania, bangun, Cinta?"

Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan. Asalkan Nania
sedar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia dapat melihat lagi cahaya di mata
kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang menjadi sumber semangat bagi
orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli.

Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania. Anak-anak merindukan ibunya. Di
luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak bercukur,
atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan.

Ia ingin melihat Nania lagi dan semua pergerakan perempuan itu di mata, gerak
bibir, kenyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya yang
cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.

Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sedar dan wajah penat
Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya.

Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan
mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata yang
meleleh.

Asalkan Nania sedar, semua tak penting lagi.

Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa. Lelaki
biasa itu tak pernah penat merawat Nania selama sebelas tahun terakhir.
Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per
satu. Setiap petang setelah pulang dari pejabat, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan
menggendong Nania ke atas, melihat senja datang sambil memangku Nania seperti
remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta.

Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur. Membersihkan
wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania
selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak perlu. Bagaimana
dapat merasa cantik dalam keadaan lumpuh?

Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal erti penat selalu
meyakinkan Nania, membuatnya perlahan-perlahan percaya bahawa dialah perempuan paling
cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli.

Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar. Selama
itu pula dia selalu membawa Nania. Belanja, makan di restoran, menonton
wayang, rekreasi, ke manapun Nania harus ikut. Anak-anak, seperti juga Rafli,
melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania. Begitu bertahun-tahun.

Awalnya tentu Nania sempat merasa sedih dengan pandangan orang-orang di
sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya hiba, lebih-lebih pada Rafli yang
berkeringat mendorong kerusi roda Nania ke sana kemari. Masih dengan senyum
hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat.

Lalu beransur Nania menyedari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di jalan,
juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya memberi
pandangan hiba, namun juga mengata, semua berbisik-bisik.

"Baik sangat suaminya!"

"Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!"

"Nania beruntung!"

"Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya."

"Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya
memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam!"

Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan Mama

Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin bingung,
merasa tak berani, merasa?

Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyedari itu kemudian. Orang-orang di luar
mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu begitu.
Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeza bunyi?

Dari atas Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basketball dengan ayah mereka.
Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan.

Ya. Dua puluh dua tahun pernikahan. Nania mengira-ngira semua, anak-anak yang
beranjak dewasa, rumah besar yang mereka duduki, kehidupan yang lebih dari yang
dapat dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi sempurna. Meski kecantikannya tak
lagi sama kerana usia, meski kerjayanya telah direbut takdir dari tangannya.

Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari lelaki biasa,
tak pernah berubah, segalanya hanya untuk Nania.
Photobucket
p/s besh x?? uHu..seTianYe si rAfLi 2...kAn bEsh kLu dpt sUami g2..
hehe..Photobucket
bRanGan plk Ak niH..tp xsAla kN kLu ak mYiMpAn impiAn...
jiwAng gAk ak Ni erK...huhu



**4 bOys**
>> jAdi lAr leLaki seseTia RaFLi 2...ye lA...bKn sNang nk cArik lAki cAm2 sKanG ni kn??
klU bKn koWg yg jAdik laKi sEtiA, saPe lAgy lA poMpuAn nk Arap kn??
pK2 kAn lAr yer...xrUgi pn...apprEciAte womeN...xpEciAlly uR wiFe n uR mOm k...
Photobucket

2 comments:

Eydin said...

aku respek sama hero tuh..
^_^

^^ecah^^ said...

heroin dye xrspek kew??hehe

There was an error in this gadget
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...